Cari tulisan.

Temukan musisi, rilisan, atau topik di Terpapar! Musik.

REVIEW KHUSUS: Decky Anugrah – One in a Million (Album)

Album penuh kedua dari Decky Anugrah, produser-arranger-instrumentalis asal kota Malang.

Membahas album instrumental secara teori hanya akan menghasilkan racauan membosankan. Bahkan jika kita perluas ke tahap produksi, One in a Million cuma menghasilkan kata “bagus”—minim penjelasan.

Jadi, baiknya kita geser reviu ini ke ranah resepsi.

Cara terbaik mendengarkan album ini: memejamkan mata. Dengan metode itu, saya merasa musik Decky Anugrah ini seperti mengiringi fragmen-fragmen sebuah film. Kadang ia menjelma film animasi. Kadang dramaturgi Korea. Namun seringnya, adegan-adegan reflektif.

“At the Breeze”, misalnya, saya bayangkan sebagai swacakap seseorang di pinggiran sebuah danau, dengan pantulan matahari jam tiga sore sebagai sayapnya. Hal ini diperkuat dengan monolog yang menjadi pengantar instrumentalia ini.

Trek favorit saya, “At 28”, memberikan gambaran yang lain lagi. Alunan musiknya semacam melihat DEPAPEPE jamming dengan Fourplay; menghasilkan sebuah scene tersesat di sebuah kota dan perenungan akan segala keberubahannya. Di sepanjang komposisi, saya adalah narator yang telah lama berdamai dengan segala riuh rendah tadi. Semacam mengamini paradoks Heraclitus:

“Satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri.”

Via album ini, Decky adalah penonton semenjana. Ia bagai fotografer yang memotret semua itu, memprosesnya di kamar gelap, lalu membuatnya abadi. Jika album adalah galeri, maka One in a Million adalah sajian eksibisi atas hal-hal tadi.

Kenangan-kenangan yang terlahir, seringkali terlupakan, namun tak pernah benar-benar mati.

-KMPL-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *