Cari tulisan.

Temukan musisi, rilisan, atau topik di Terpapar! Musik.

Menyoal IGMO di AMI Awards 2026

Not being a party-popper, tapi ada trek-trek lain yang lebih “masuk” untuk Kategori Progresif.

Foto oleh: Aditya Ferdian

Saya tentu senang melihat “Randall & Goby”—salah satu lagu di album kedua IGMO—menjadi nominee AMI Awards 2026. Sebagai teman. Konco Ngopi.

Tapi sudah, itu saja.

Saya sendiri cenderung heran dengan pilihan tersebut. Progresif sebagai etos, dalam pengertian paling dasar, adalah “memperluas palet yang telah menjadi standar”. Kata kuncinya: Standar. Ada sesuatu yang harus dilangkahi. Diperluas. Dieksplorasi.

King Crimson menjadi prog karena ia merombak “standar” rock kala itu yang kalau tidak The Beatles ya Rolling Stones. Pet Sounds (The Beach Boys) adalah prog karena mendefinisikan ulang pop via kompleksitas aransemennya; sesuatu yang membuat McCartney kepikiran bikin Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band.

Standar, meski berubah-ubah seiring waktu, tetaplah serupa: disetujui banyak pihak. Dalam hal ini, massa. Bahkan jika “massa” itu adalah sebuah subkultur. Berbicara soal kawula rock Kediri tersebut, hal ini semakin penting. Terutama melihat lanskap besar musik Indonesia.

Begini, saya melihat bahwa apa yang kita sebut “Rock Indonesia” mandeg di Jamrud atau setidaknya, Dewa 19. Setelahnya, ada sebuah stagnansi makna soal apa itu band “rock Indonesia”. Seakan semua yang hadir setelahnya tak diakui sebagai bagian resmi darinya. Lihat saja komentar abang-abangan dad rock di video-video band di atas yang isinya serupa: glorifikasi masa lalu.

Hal ini diperkuat oleh cita-cita adiluhung Mas Dul Jaelani beberapa tahun lalu. Konon, ia ingin “menyelamatkan musik rock Indonesia”. Waktu membacanya, saya mengernyitkan dahi, “Apa kabar The SIGIT, Kelompok Penerbang Roket, Jangar, Seringai, dsb.?” Maksud saya, rock Indonesia terus bertumbuh; definisinya saja yang kelewat purba.

Dari situ, saya lebih setuju jika band-band rock macam The SIGIT atau Kelompok Penerbang Roket lebih tepat disebut “anak tiri rock Indonesia”. Mereka yang tersesat di jalur indie alih-alih melebur bersama apa pun yang jadi racauan para penderita rockism tadi.

Perlahan, keduanya pun jadi “standar”. Bikinlah percakapan santai dengan para kawula indie, niscaya mereka menyebutkan dua band itu sebagai sinonim “rock”. “Wah, The SIGIT-nya [kota B]” atau “Ini mah KPR-nya [kota C]”; Anda pasti beberapa kali mendengar kalimat ini. Apakah para juri memperhitungkan percakapan ini sebagai salah satu titik mula penilaian? Tentu bukan saya yang bisa menjawabnya.

Dan jika standarnya adalah dua band tadi, pilihan “Randall & Goby” menjadi janggal. Instrumentasi akustik dengan sentuhan darbuka di sana bukanlah eksplorasi progresif, melainkan sekadar nylenthang. Tak ada sisa-sisa palet yang berusaha dilangkahi. Jika alasannya cuma penempelan instrumen tersebut, saya curiga juri terjebak pada eksotisme semata.

Semoga saya salah.

Tak cuma etos, progresif pun bisa dipandang sebagai genre. Ini mirip dengan indie sebagai etos dan indie-rock sebagai genre. Genre rock progresif mempunyai beberapa ciri khas, seperti adu-rombak time signature, harmoni eksploratif, konseptualisasi album, hingga eksibisi virtuosity. Dari situ, sesungguhnya ada materi album Absurd, Artificial, Potential yang lebih sah jadi nominasi: “Curriculum”.

Trek tersebut begitu eklektis; menyajikan rock ala Queen, sentuhan speed metal, hingga twist ska yang bersanding dengan gendhing gamelan. Pusparagam musikal itu berbanding lurus dengan liriknya: sebuah metafora atas kebobrokan sistemik di tingkat paling fundamental, pendidikan.

Yes, that’s why it’s called “Curriculum” (and it’s fuckin’ progressive).

Ketika “Randall & Goby” disandingkan di atas meja bersama para nominee lain, ketimpangan ini semakin telanjang. “Gema di Negeri Kata” (Dakara x Rafi Daeng) adalah usaha merevitalisasi prog 70-an ala Kansas dan Gentle Giant (intro a cappella-nya sangat mengingatkan saya pada “Knots”). Mevlied Nahla lewat “Target Operasi” menyajikan biola sebagai lead di atas ritme jazz-rock. “Bunuh Serigala dalam Hatimu” (Serdadu Sam) bernapas serupa, sementara Isyana Sarasvati bersama Agt. Widi mengawinkan prog-metal dengan vokal deathcore.

Di tengah gelanggang yang berisi eksperimentasi teknis semacam itu, argumen saya makin sah: “Curriculum”—bukan “Randall & Goby”—yang secara etos dan genre layak menjadi gladiator di kategori “Karya Produksi Progresif Terbaik”.

“Randall & Goby”? Baiknya masuk ke dalam nominasi akustik, bahkan rohani.

Terakhir, saya menghargai AMI Awards sebagai wadah apresiasi. Lebih-lebih, sesuatu yang menyenangkan hati kawan-kawan. Namun sebagai perhelatan yang mendapuk dirinya (mewakili) “Indonesia”, ia layak dan harus terus dipertanyakan.

Bagaimana mengkurasi ribuan submisi yang ada di situs mereka? Siapa yang menilai? Apa yang menjadi dasarnya? Sejauh ini, saya belum menemukan kuratorial serta lembar pertanggungjawaban juri atas pilihan-pilihan tersebut (mohon kabari saya jika ada). Dalam penghargaan-penghargaan sastra, misalnya, hal ini penting untuk kemudian menjadi keberadaan wacana, sekaligus diskusi baik internal maupun eksternal.

Kita bahkan belum membicarakan sumber pendanaannya; Dana Indonesiaraya dan LPDP terpampang jelas di sana. Keduanya, lagi-lagi setahu saya, bersumber dari APBN. Berarti ada duit kita di sana. Ya tho?

Mau tidak mau, AMI Awards adalah piranti politik budaya. Ia memberikan sebuah legitimasi kepada siapa pun yang masuk ke dalamnya. Ada semacam stempel khusus yang siap menoreh cap: musik-musik ini “bertaraf nasional”, “lulus belantika”, pula “tercatat sejarah”.

Singkat kata, ia adalah usaha kanonisasi.

Selain hal simbolik di atas, saya tidak melihat dampak signifikan dari ajang-ajang sejenis. Satu-satunya perubahan setelah ini adalah cah-cah punya tambahan modal untuk merevisi penulisan rilisan pers mereka. Dari “IGMO, kawula rock asal Kediri…” menjadi “IGMO, AMI-nominee asal Kediri…” Soal harga manggung, kejelasan royalti, jaminan hari tua, hingga angka streaming? Well, jalan kita masih panjang.

Keren-kerenan. Cuma itu relevansinya.

-KMPL- (@randy_kempel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *